Rabu, 31 Januari 2018

Review Film Dilan 1990

"Jangan rindu. Ini berat. Kau tak akan kuat. Biar aku aja". #Dilan



Yaa..itulah salah satu kata manis dan romantis yang diucapkan Dilan pada Milea yang akhir-akhir ini menjadi viral di media sosial dan sering dibuat meme oleh para netizen. Kisah asmara remaja tahun 1990 ini memang sedang menjadi perhatian kaum muda terlebih semenjak film berjudul Dilan 1990 yang diangkat dari Novel Dilanku 1990 karya Pidi Baiq tayang di bioskop. Saya yang belum pernah  sama sekali membaca Novel laris ini awalnya tidak tertarik dengan film bergenre remaja ini. Namun melihat minat para penonton dan  4 studio yang ada di Empire XXI didominasi oleh film yang disutradarai oleh Fajar Bustomi ini membuat saya menjadi penasaran dengan cerita tentang film ini. Seperti apa sih ceritanya, film yang sampai hari kelima sejak peluncurannya 25 Januari 2018 sudah mencapai  1.645.000 penonton (sumber  twitter) ! wow!!! 

Film Dilan 1990 ini bercerita tentang perkenalan Dilan dan Milea di sebuah SMA di Bandung. Saat itu Milea pindah sekolah dari Jakarta ke Bandung tahun 1990. Dilan mendekati Milea si gadis cantik murid baru di sekolah itu. Dengan caranya yang unik, lucu, dan selalu mengundang senyum, Dilan dengan penuh percaya diri mendekati Milea. Namun waktu itu Milea memiliki kekasih bernama Beni di Jakarta. Dilan yang romantis dan asik itu ternyata tergabung dalam geng motor dan terlibat tawuran. Tokoh Dilan diperankan oleh Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan/Iqbal CJR dan Milea diperankan oleh Vanessa Prescilla adik dari Sissy Priscillia. 

Film Dilan 1990 ini menggunakan alur mundur/flashback. Waktu itu Desember 2014 Milea yang  saya perkirakan saat itu berusia 41 tahun (Tahun 1990 Milea berusia 17 tahun, jadi kira-kira Milea itu kelahiran 1973.#BenerGak ? silakan hitung sendiri ya hehehe...) sedang mengenang dan merasakan rindu pada Dilan, pria yang mampu membuatnya nyaman dan selalu tersenyum. Kisah cinta masa remaja 24 tahun silam disuguhkan secara manis dan apik oleh rumah produksi Falcon Pictures. Menurut Pidi Baiq pria kelahiran Bandung, Jawa Barat 8 Agustus 1972 ini bahwa tokoh Milea dan Dilan ini memang ada di kehidupan nyata/kisah nyata.

Kisah dalam film ini disajikan dengan sangat menarik dan tidak membosankan dengan aktor-aktor muda. Karakter Dilan sebagai remaja yang jago bikin puisi dan kata-kata manis nan puitis ini  seolah mengajak penonton untuk kembali mengingat masa-masa indah jaman SMA. Setting lokasi, karakter  dan sifat anak muda usia SMA didan segala properti yang digunakan semakin menguatkan dan menghadirkan suasana masa itu. 

Penonton yang waktu itu didominasi oleh anak muda baik yang datang bersama pasangannya maupun datang bersama teman-temannya sangat menikmati akting apik dari Iqbal dan Vanessa. Tawa dan seruan penonton saat mendengar kalimat manis penuh gombalan ala Dilan membuat suasana studio menjadi semakin hidup dan semarak. 

Satu hal yang menurut saya kurang pantas untuk ditampilkan adalah beberapa adegan yang kurang sopan yang ditujukan kepada Milea sebagai seorang perempuan misal sebuah tamparan dari teman Dilan dan kata-kata kasar dari Beni kekasihnya. Tapi ini semua tidak mengurangi maksud dari sang penulis dan sutradara untuk menunjukkan karakter dan emosi anak muda seusia itu. Dalam film ini nampak juga hubungan yang akrab dan hangat antara orang tua dengan putra-putrinya yang sedang beranjak remaja. Selain itu, film Dilan 1990 menyelipkan pesan bagi para bapak ibu guru agar tidak bersikap semena-mena kepada muridnya atau tidak terlalu arogan jika mendapati murid yang melakukan kesalahan atau melanggar aturan.   

Berikut beberapa cuplikan adegan dari film Dilan 1990 : 
adegan Dilan 1990

Adegan saat Dilan mendekati Milea

Tiket nonton Dilan 1990
Selamat sejenak kembali ke masa SMA dengan menyaksikan Dilan 1990.***
*Background pengambilan foto tiket saya ini, semua kaum muda itu sedang antri di depan studio pemutaran film Dilan.

Sabtu, 20 Januari 2018

Review Film The Greatest Showman

Film pertama yang saya saksikan di tahun 2018 ini berjudul The Greatest Showman. Film yang disutradarai oleh Michael Gracey ini menurut saya sangat pas jika disaksikan di awal tahun. Awal tahun biasanya dijadikan momentum bagi setiap orang untuk memulai berjuang meraih mimpi-mimpi yang baru atau mungkin yang masih tertunda di tahun sebelumnya. Melalui film ini penonton diingatkan bahwa  ambisi membangun dan berjuang meraih mimpi saja tidaklah cukup semua juga harus diimbangi dengan sikap mawas diri agar kita tidak menjadi pribadi yang lupa diri dan sombong. 


Berikut sinopsis film The Greatest Showman (sumber : www.21cineplex.com)

The Greatest Showman adalah film musikal yang merayakan kelahiran bisnis pertunjukan dan perasaan kagum yang kita rasakan ketika mimpi bisa jadi kenyataan. Terinspirasi dari kisah perjuangan hidup dan imajinasi P.T. Barnum. The Greatest Showman mengisahkan tentang seorang visioner yang membangun dari nol untuk menciptakan pertunjukan mengagumkan yang menjadi sensasi dunia. 
The Greatest Showman disutradarai oleh Michael Gracey dengan lagu-lagu hasil karya pemenang Academy Award Benj Pasek dan Justin Paul (La La Land) dan dibintangi oleh peraih nominasi Academy Award Hugh Jackman. Selain itu juga menampilkan Michelle Williams, Zendaya, Zac Efron dan Rebecca Ferguson.

Pertunjukan Tim P.T Barnum

Seorang P.T. Barnum kecil dari keluarga yang tidak mampu, putra seorang penjahit bermimpi besar menciptakan pertunjukan terkenal di seluruh dunia. Berkat perjuangan, usaha dan dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya impiannya bisa terwujud. Barnum mengajak pribadi-pribadi yang memiliki keunikan dan keterbatasan yang justru dikucilkan oleh orang lain untuk bergabung bersamanya menciptakan sebuah pertunjukan(sirkus) yang spektakuler. Mereka semua dilibatkan agar mereka semua semakin memiliki nilai percaya diri dengan semua keunikan yang dimilikinya. Akhirnya mereka menjadi satu tim yang sukses dapat menciptakan pertunjukkan yang hebat dan  mampu membuat penonton terhibur. P.T. Barnum semakin sukses dan terkenal. 

Namun karena ucapan dan sikap mertua PT. Barnum yang merendahkannya membuat dirinya semakin berambisi untuk menjadi pribadi yang tidak pernah merasa puas dengan kesuksesan yang telah diraihnya dengan dalih bahwa semuanya ini demi kebahagiaan keluarga. 

Tim P.T. Barnum 

Keluarga P.T. Barnum

Pesan penting yang bisa saya bagikan dari Film The Greatest Showman antara lain : 
  1. Berani bermimpi besar dan percaya bahwa mimpi itu pasti terwujud jika kita mau berusaha untuk memperjuangkannya. 
  2. Memiliki tekad yang teguh dan gigih berjuang untuk mencapai impian tersebut.
  3. Selalu ingat dan berterima kasihlah kepada orang-orang yang telah mendukung keberhasilan dan kesuksesanmu. 
  4. Kebahagiaan dan kebersamaan keluarga merupakan hal yang penting dan juga perlu di perjuangkan karena semua keberhasilan kita berkat dukungan dan cinta dari keluarga. 
  5. Selalu bermawas diri agar keberhasilan yang kita raih tidak justru membawa kita pada kesombongan, lupa diri dan jatuh pada masalah baru yang bisa menghancurkan kita dan keluarga. 
  6. Menghargai pribadi lain dengan segala keunikan dan kelemahannya serta tidak memandang rendah orang lain. Memberi dukungan dan peluang kepada mereka untuk maju dan berkembang.

Tiket Nonton
Perpaduan antara musik dengan koreografi dalam film yang dibintangi oleh Michelle Williams ini sangat luar biasa dan  memanjakan mata para penonton. Keindahan musik dan koreografinya mampu mampu membawa penonton untuk merenungkan makna terdalam dari film ini. 

Selamat meraih impianmu...!!! 
Tetaplah mawas diri ...
Agar kau tak lupa diri..

Rabu, 10 Januari 2018

Resensi Buku Jump





Judul     : Jump            
Pengarang : Augie Fantinus
Penerbit  : B-First
Cetakan   : I, Juli 2017
Tebal     : 236 halaman
ISBN      : 978-602-426-057-6


Persembahan Bagi Negri

“Ketika kita tidak menyerah dan percaya bahwa akan ada hal baik yang datang sebagai jawaban atas usaha keras kita, keajaiban akan datang. Kenapa? Karena Tuhan itu baik.” (hal.184)

Kalimat inilah yang diyakini oleh Augie Fantinus seorang presenter yang sangat mencintai olahraga basket. Kecintaannya pada basket membuatnya bersedia menjadi Manajer Timnas Bola Basket Putri pada ajang SEA Games 2015 walaupun ia sendiri jarang mendapat kesempatan untuk main basket. Indonesia yang tidak pernah menang selama 18 tahun terakhir di ajang SEA Games, akhirnya berhasil meraih medali Perak pada SEA Games 2015 di Singapura melalui Timnas Bola Basket Putri.

Buku yang berisi perjalanan Augie sebagai Manajer Timnas Bola Basket Putri dalam meraih medali Perak ini mengingatkan pembaca bahwa untuk meraih sukses itu perlu perjuangan dan kerja keras. Dengan persiapan yang singkat, pendanaan yang minim, Surat Keputusan(SK) sebagai Manajer Timnas yang tak kunjung turun, perasaan rendah diri dan pesimis, Augie berjuang demi mengharumkan Indonesia. Augie yang menyelesaikan kuliah di Ohio State University,AS ini mencetuskan visi misi yang disebut “Filosofi Augie” yang terdiri 6 poin antara lain : teamwork, hardwork, pride, confidence, trust, dan fun (hal. 38-41) yang ditanamkan pada pemain.

Kerendahan hati Augie untuk mau belajar dari sejumlah manager tim seperti Ronald Simanjuntak(manager Pelita Jaya), Ferry Jupri, dll membuat dia mampu memimpin dengan baik. Selain itu, prinsip-prinsip Augie selama menjadi manajer seperti disiplin, tahu tujuan tim(visi misi), mau mendengarkan, turun langsung membantu anggota tim lain, terbuka, mau belajar dari orang lain, komunikasi dan koordinasi yang baik, cepat tanggap dan bisa membaca situasi yang terjadi membuatnya sukses memimpin Timnas meraih medali Perak. Dukungan dan motivasi dari Ridwan Kamil(Walikota Bandung), Tri Risma(Walikota Surabaya), dan alm. Julia Perez(artis) kepada pemain memberi energi positif bagi Timnas(bagian 10).

Membaca buku ini membuat pembaca terharu (bagian 14) dan larut dalam euforia SEA Games 2015(hal 114). Penggunaan bahasa yang santai, ringan disertai kalimat-kalimat yang sesekali mengundang senyum pembaca, membuat buku ini akrab dengan pembaca. Setiap cerita saling terkait satu sama lain sehingga 30 bagian dalam buku ini harus dibaca secara berurutan. Bagian akhir buku ini dilengkapi dengan glosarium yang membantu pembaca memahami istilah-istilah dalam permainan basket. Bagi pecinta basket buku ini bisa menjadi pilihan bacaan, namun tidak menutup kemungkinan siapapun untuk membacanya.***

Minggu, 31 Desember 2017

Review Film Susah Sinyal

Menutup tahun 2017, Minggu, 31 Des 2017 saya dan keluarga menyaksikan film karya anak bangsa garapan Ernest Prakasa dan Meira Anastasia(istrinya). Setelah sukses dengan film yang sebelumnya di tahun 2016 yang juga tayang bulan Desember, Ernest kembali menghasilkan karya baru yang berjudul "Susah Sinyal".



Satu hal yang sangat menarik bagi saya adalah judul film ini yang unik serta pesan tersembunyi dibalik judul yang mampu memberi energi positif bagi yang menyaksikannya. Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, mungkin juga oleh penonton yang lain bahwa isi film ini sedikit bahkan fokus cerita tidak pada judul itu. Saya sendiri membayangkan film ini akan berkaitan dengan kesulitan sinyal handphone yang bisa menghambat pekerjaan atau aktivitas di suatu daerah tertentu "Susah Sinyal". Namun berkat kreativitas penulis skenario, Ernest dan Meira membuat film ini menjadi sangat istimewa dengan lebih menonjolkan hubungan keluarga antara orangtua khususnya ibu dengan putrinya.

Menyaksikan film ini mampu memberi pengaruh positif bagi para penonton untuk semakin mencintai orangtua, anak dan keluarga serta menghargai waktu kebersamaan bersama keluarga. Film yang bergenre drama komedi ini cukup menghibur penonton dengan adegan-adegan dalam film yang sangat relevan dengan perkembangan teknologi dan pengaruhnya saat ini bagi remaja. Film yang tayang satu hari sebelum hari ibu, 21 Desember 2017 saya rasa sangat pas dengan momen hari Ibu di tanggal 22 Desember. Jadi bagi yang nonton pas tanggal 22 Des 2017...ehhmm..pas banget tuh dengan isi ceritanya....
Tidak cuma tawa, penonton juga dibawa pada suasana haru.

Berikut sinopsis film yang mengangkat keindahan Pulau Sumba di provinsi Nusa Tenggara Timur ini yang saya peroleh dari www.google.com
Ellen (Adinia Wirasti), pengacara yang sukses, adalah seorang single mom yang jarang bisa meluangkan waktu bagi anak tunggalnya Kiara (Aurora Ribero), yang akhirnya tumbuh sebagai remaja pemberontak yang lebih banyak melampiaskan emosinya di media sosial. Mereka tinggal bersama Agatha (Niniek L. Karim), ibunda Ellen yang sangat menyayangi Kiara. Ketika Agatha meninggal terkena serangan jantung, Kiara yang sejak kecil sangat dekat dengan Omanya langsung terguncang. Oleh psikolog, Ellen disarankan untuk mengajak Kiara berlibur, menghabiskan quality time untuk mengobati masa-masa di mana Ellen terlalu sibuk bekerja. Mereka pun pergi ke Sumba, menghabiskan saat-saat menyenangkan berdua. Kiara pulang dengan hati riang. Di Jakarta, Ellen langsung disambut masalah besar di kantor. Proyek besar yang sedang ia tangani bersama Iwan (Ernest Prakasa) terancam berantakan. Akhirnya karna sibuk, Ellen tidak menepati janjinya untuk menonton Kiara tampil di perlombaan talent show antar SMA yang sudah Kiara persiapkan sejak lama. Kiara pun marah dan pergi ke Sumba sendirian, tempat dimana terakhir kali ia bisa merasakan secercah kebahagiaan. Akankah Kiara bisa percaya lagi pada ibunya? Apakah Ellen sanggup merajut kembali keluarga kecil ini? Saksikan SUSAH SINYAL, tayang di bioskop mulai 21 Desember.
Beberapa pesan berharga yang saya peroleh dan ingin saya bagikan setelah menyaksikan film ini antara lain :

  1. Bahwa hubungan/relasi keluarga itu sangat berharga dan melebihi segala sesuatu.
  2. Kesibukan pekerjaan yang menyita waktu kebersamaan dengan keluarga hendaknya bisa diimbangi dengan perjumpaan dan memaksimalkan waktu kebersamaan bersama anggota keluarga. 
  3. Anak-anak kita membutuhkan perhatian, waktu, dan kebersamaan bersama dengan orang tua dan tidak hanya sekedar pemenuhan segala kebutuhan/materi. 
  4. Orang tua sebaiknya memiliki sikap terbuka, memberi bimbingan dan dukungan terhadap perkembangan teknologi dan pengaruh positifnya yang dilakukan anak-anak kita, sehingga mereka semakin kreatif untuk menghasilkan karya yang bermanfaat. 

Kirana dan Mama Ellen yang mengalami Susah Sinyal saat berlibur di Sumba


Salah satu adegan di film Susah Sinyal (Kirana dan Mama Ellen)

Tiket nonton Susah Sinyal
Itulah beberapa hal yang bisa saya bagikan. Semoga selepas menyaksikan film Susah Sinyal ini, para penonton semakin mencintai keluarganya dan semakin menghargai waktu kebersamaan bersama orang-orang terkasih. Dan terlebih semakin menghargai dan mengapresiasi film-film karya anak bangsa.***



Selasa, 19 Desember 2017

Resensi Buku Young On Top(YOT) Updated



Judul     : Young On Top(YOT) Updated
Pengarang : Billy Boen
Penerbit  : B-First
Cetakan   : I, Agustus 2017
Tebal     : 218 halaman
ISBN      : 978-602-426-071-2


Rahasia Sukses Di Usia Muda

     Sukses berarti mampu meraih sesuatu yang ditargetkan sejak awal. Bila sukses bisa diraih di usia muda, mengapa harus menunggu tua? Sukses itu membutuhkan perjuangan dan kerja keras. Namun kerja keras saja tidaklah cukup. Memiliki karakter dan kepribadian yang baik juga merupakan salah satu faktor meraih sukses. Kemauan untuk terus belajar, selalu bersyukur, tidak pernah merasa puas dan mau berbagi pengalaman dan pemikiran merupakan beberapa sikap yang harus dimiliki dan dikembangkan. Dalam bukunya, Billy Boen yang seorang pengusaha asal Indonesia membagikan nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tuanya, pengalamannya selama kuliah, berteman, dan bekerja, yang membuatnya sukses di usia 26 tahun sebagai pimpinan tertinggi pada Oakley di Indonesia.

Buku ini memberi wawasan dan kiat-kiat meraih sukses di usia muda. Mengawali buku ini pembaca diajak untuk mengetahui tujuan dan panggilan hidupnya serta mengenali passion-nya(sesuatu yang dicintai) untuk memudahkan seseorang meraih sukses. Buku yang terdiri dari 7 bab ini pada setiap awal babnya disertai kutipan-kutipan dari tokoh, CEO, pebisnis dan orang-orang sukses yang sangat menginspirasi. Buku setebal 218 halaman ini memotivasi kaum muda untuk berani bermimpi besar dan keluar dari zona nyaman untuk mencapai zona nyaman yang lebih tinggi serta memiliki integritas dalam bekerja.

Dengan bahasa yang sederhana dan ringan penulis seolah berbicara dan berkomunikasi langsung menyampaikan kalimat-kalimat yang mampu memberi energi positif kepada pembaca. Penulis juga menandai kalimat-kalimat penting yang perlu mendapat perhatian pembaca. Penyampaian kiat-kiat sukses seperti berpikiran terbuka, kreatif, percaya diri, tepat waktu, berpikir positif, memberi solusi atas masalah, dll semakin mudah dipahami dengan ilustrasi dan contoh pengalaman yang dialami penulis. Penulis juga mengajak pembaca untuk memanfaatkan teknologi dalam meraih sukses dengan memaksimalkan penggunaan web dan media sosial. Ungkapan-ungkapan dari tokoh-tokoh dunia seperti Donald Trump, Robert Kiyosaki, Robin Sharma, dll semakin menyempurnakan buku ini. Sebagai akhir buku ini, penulis mengajak pembaca untuk segera beraksi dan memulai langkah awal untuk meraih sukses mulai saat ini.

Buku yang sangat bernilai dan bermanfaat bagi pembentukan karakter dan pribadi seseorang ini diperuntukkan bagi kaum muda Indonesia yang mau mengapai impiannya di usia muda.***




Jumat, 15 Desember 2017

Resensi Buku Belajar Move On Bareng Steve Jobs





Judul     : Belajar Move On Bareng Steve Jobs
Pengarang : Jubilee Enterprise
Penerbit  : Elex Media Komputindo
Cetakan   : I, 2017
Tebal     : 119 halaman
ISBN      : 978-602-04-4561-8


Raih Cita Tanpa Galau

Dalam proses meraih mimpi dan cita-cita, seringkali para remaja menghadapi berbagai persoalan yang dapat melemahkan semangatnya sehingga mempengaruhi masa depannya. Kegagalan yang mereka alami disebabkan karena mereka tidak dapat mengelola dan mengatasi setiap persoalan dengan baik dan lebih memilih untuk larut dalam kekecewaan dan keputusasaan. Steve Jobs seorang ahli Information Technology(IT), sosok dibalik suksesnya Apple, Iphone, iMac, iTunes, AppStore inipun tidak lepas dari permasalahan dan persoalan yang pada umumnya dialami para remaja. Namun Steve lebih memilih berpikiran maju dan positif saat menghadapi kegagalan daripada galau berkepanjangan.

Buku berjudul Berani Move On Bareng Steve Jobs ini, membagikan kiat-kiat sukses seorang Steve Jobs dalam mewujudkan impian dan cita-citanya. Steve Jobs mengajak para remaja untuk tidak mudah menyerah dan putus asa saat menghadapi kesulitan melainkan mampu menyikapi setiap kegagalan dengan semakin kreatif dan sukses dengan menciptakan hal-hal baru. Buku ini memuat kisah-kisah hidup Steve Jobs secara singkat disertai ungkapan-ungkapan yang ditulis dengan font yang agak besar untuk meneguhkan. Ada 20 bagian dalam buku ini, bagian 1 sampai 14 berisi tentang kisah hidup Steve Jobs dan kiat suksesnya dilengkapi dengan lembar latihan di akhir setiap babnya. Sedangkan bagian 15 sampai 20 berisi pesan-pesan yang memotivasi pembaca agar memiliki sikap positif seperti Steve Jobs.

Mengawali buku setebal 119 halaman ini pembaca diajak untuk mengenali arti dan makna sebuah nama diri kita serta menghidupi nama itu dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang ringan, santai dan sangat mudah dipahami membuat buku ini nyaman dibaca para remaja dalam menyiapkan masa depan dengan penuh semangat. Pembaca juga diajak untuk merumuskan mimpinya dengan mengenali kelebihan, kekurangan diri dan kualifikasi-kualifikasi yang patut dihargai orang lain.

Manfaat dari buku ini semakin dirasakan jika pembaca mau mengisi lembar latihan yang tersedia sebagai bahan instropeksi dan evaluasi diri. Semoga buku ini mampu menginspirasi para pembaca khususnya remaja dalam mempersiapkan masa depan yang cerah.***



Sabtu, 09 Desember 2017

Review Film Coco Disney

Pernahkah kita mendoakan arwah-arwah orang yang sudah meninggal? 
Atau setidaknya mengenang mereka setahun sekali saja? 
Atau bahkan melupakan begitu saja mereka yang sudah meninggal dunia?

Di Meksiko ada suatu hari yang dinamakan Dia de los muertos atau Day of the dead atau Hari Kematian, hari dimana mereka merayakan, mengenang, menghormati dan mendoakan arwah sanak saudara yang telah meninggal. Hari itu dipercaya oleh penduduk Meksiko bahwa orang-orang yang telah meninggal datang kembali mengunjungi orang-orang yang dicintai yang masih hidup. 
Dalam agama Katolik-pun setiap tahunnya juga memperingati Hari  Arwah Semua Orang Beriman setiap tanggal 2 November. 

Bagi masyarakat di Meksiko Day of the dead merupakan sebuah perayaan yang membahagiakan. Mereka mengunjungi makam para leluhur yang telah meninggal dan membuat altar/tempat khusus untuk dipasang foto-foto saudara yang meninggal serta menghiasinya dan memberikan persembahan untuk menghormati mereka. 

Poster Coco

Film yang disutradarai oleh Lee Unkrich dengan penulis cerita Adrian Molina dan diproduseri oleh Darla K. Anderson ini mengangkat tema tentang budaya penghormatan dan mengenang arwah para leluhur yang telah meninggal di Meksiko ini. 

Berikut sinopsis singkatnya yang saya dapatkan dari google.com
Terlepas dari larangan musik yang membingungkan keluarganya, Miguel bermimpi untuk menjadi musisi berprestasi seperti idolanya, Ernesto de la Cruz. Putus asa untuk membuktikan bakatnya, Miguel menemukan dirinya berada di alam baka yang menakjubkan dan penuh warna setelah serangkaian peristiwa misterius. Sepanjang jalan, ia bertemu dengan penipu bernama Hector dan bersama-sama mereka mulai perjalanan yang luar biasa untuk membuka kisah sebenarnya di balik sejarah keluarga Miguel.

Miguel dan Mama Coco

Coco di depan altar foto para arwah leluhurnya
Film yang diperuntukkan bagi semua usia ini cukup menghibur dan memberikan pesan positif bagi para penonton. 

Beberapa hal positif yang menjadi catatan bagi saya adalah :
  1. Perlunya kita untuk senantiasa mendoakan arwah semua orang yang telah meninggal, khususnya sanak saudara dan para leluhur kita.
  2. Memasang foto-foto para sanak saudara dan leluhur untuk mengenang, dan menghormati mereka semasa mereka masih hidup di dunia.
  3. Memberikan minimal 1 hari khusus untuk merayakan, mengunjungi makam, dan mengenang para leluhur dan sanak saudara kita yang telah meninggal agar mereka mengalami kebahagiaan dan kedamaian di surga.
  4. Senantiasa mengingat dan mengenang sanak saudara kita yang telah meninggal agar mereka selalu ada dalam keabadian dan tidak hilang lenyap dan dilupakan. 


Semoga pesan dalam film ini dapat membuat kita senantiasa mengenang dan mendoakan sanak saudara dan para leluhur kita yang telah meninggal agar mereka mendapat kedamaian abadi di Surga***